Menikmati Danau Segara Anak Gunung Rinjani. Salah Satu Danau Tertinggi dan Terindah di Indonesia!

Liputan Event Jomblo Mendaki Rinjani sudah memasuki episode terakhir sekaligus yang paling asyik. Dalam artikel ini, Hipwee Travel bakal mengulas perjalanan Tim pendakian Jomblo Mendaki Rinjani dari Sociotraveler menuju Danau Segara Anak, Rinjani. Tapi alangkah baiknya kamu simak dulu artikel liputan khusus ini sebelumnya. Ini nih artikel pertama, Ketika Jomblo Berjuang Mencumbu Puncak Rinjani dan artikel kedua, Ketika Kemacetan Jakarta Pindah ke Rinjani. Nanti baru dilanjut artikel ini. Hehe, biar nggak bingung sih.

Yuk kita ikuti perjalanan Tim Sociotraveler mengeksplorasi Danau Segara Anak di Rinjani. Salah satu danau paling indah di Indonesia.

Menuruni lembah menuju Danau Segara Anakan, akhirnya jalannya turun juga

danau segara anak

danau segara anak via www.sociotraveler.com

Fase perjalanan setelah puncak Anjani terbilang ‘menyenangkan’. Betapa tidak, perjalanan kini tidak mendaki, namun menuruni lembah. Tak lain dan tak bukan, kami bakal menuju Danau Segara Anak, danau di ketinggian 2.008 mdpl. Hmm, cukup tinggi ya. Danau ini dulunya adalah kaldera bekas letusan Gunung Rinjani beberapa ratus tahun yang lalu.

Perjalanan menuju danau ternyata tidak mudah. Trek berbatu nan licin cukup membahayakan para pendaki. Butuh hampir 4 jam perjalanan untuk melewati rintangan itu. Ya, untungnya treknya turun, jadi nafas kami pun masih bisa dikendalikan. Kami turun jam 3 dan sampai di danau setelah maghrib. Akhirnya sampai juga…

Sensasi Mata Air Panas (Aik Kalak) begitu menyegarkan badan. Kami di sana sehari sebelum almarhumah Ike yang meninggal di pemandian tersebut

foto-foto di danau

foto-foto di danau via www.sociotraveler.com

Sampai di danau, tanpa pikir panjang kami langsung beristirahat di tenda yang sudah dibikin sama porter. Sebelum tidur, makan dulu dong Gaes. Nasi sarden dan Energen hangat terasa sangat nikmat di tengah dinginnya Danau Segara Anak. Kami berada tak jauh dari danau, mungkin sekitar 20 meter saja. Fisik yang lelah setelah menuju puncak tergantikan tuntas dengan istirahat di pinggir danau. Nikmatnya…

Keesokan harinya, kami mendapat pagi nan istimewa. Rinjani yang ramai sudah riuh dengan aktivitas anak muda di sana. Danau terlihat indah, tepat di depan tenda yang baru saja dibuka. Kami bergegas ke mata air panas untuk mandi pagi di sana. Di sinilah lokasi meninggalnya Ike Suseta Adelia (26) tepat sehari setelah kami mandi di mata air tersebut. Semoga Ike tenang di sana.

Perjalanan pulang yang menyenangkan. Keajaiban porter dan panorama alam luar biasa menemani jalan pulang

trek ke plawangan senaru

trek ke plawangan senaru via www.sociotraveler.com

Pukul 11 siang kami bersiap untuk pulang. Panorama alam Danau Segara Anak yang begitu indah sudah kami cumbui. Kini saatnya kembali. Trek selanjutnya adalah berjalan di bebatuan di tepi danau sebelum mendaki ke trek Plawangan Senaru. Trek ini bisa dikatakan cukup berat mengingat kemiringannya yang curam dan berbatu terjal. Banyak korban meninggal ketika terjatuh dari trek tersebut. Waduh harus ekstra waspada nih!

Di sini kamu bisa menyaksikan keajaiban porter yang begitu mengagumkan. Dia bisa membawa beban sekitar 25 kg hanya dengan dipanggul di salah satu pundaknya sambil mendaki trek batu curam tanpa berpegangan. Luar biasa! Kita saja udah lemes merayap di bebatuan sambil berpegangan erat. Duh, keren banget sih Pak porter!

Lewat 3 jam, kami sampai di Plawangan Senaru. Hanya beristirahat sejenak untuk minum, kami melanjutkan perjalanan pulang. Kali ini kami akan memasuki hutan Senaru, hutan mistis istana penguasa ghaib Rinjani, Dewi Anjani!

Memasuki hutan mistis Senaru, hutan di mana Dewi Anjani bersemayam. Eh, jomblo-jomblo justru curhat galau di sana

Hutan Senaru

Hutan Senaru via scontent.cdninstagram.com

Sepanjang perjalanan, hutan Senaru berselimut kabut tebal. Ya, meskipun sore hari, namun semuanya nampak putih dan sedikit mencekam. Terlebih hutan ini sering mendapat curah hujan yang tinggi sehingga treknya begitu licin dan berbahaya. Beberapa kali kami nyaris terjerembab di semak-semak karena trek tanah berpasir yang licinnya minta ampun. Beruntung kami sampai di Pos 3 tepat sebelum maghrib. Cukup seram sih kalau malam, porter saja tidak berani.

Di Pos 3 kami memutuskan untuk menginap. Meskipun banyak sekali pendaki yang langsung turun ke Pintu Senaru di malam itu. Kami justru pesta makan ikan goreng hasil tangkapan dari danau. Lebih tepatnya sih membeli tangkapan orang. Hehehe. Ah, yang penting kami bisa makan ikandi gunung. Itu adalah kemewahan yang luar biasa kan?

Malam itu kami curhat tentang kejombloan masing-masing. Ada yang sejak lahir jomblo, ada juga yang segera mengakhiri masa jomblo. Wah pokoknya seru, malam itu kami saling curhat dan menyampaikan keluh kesah yang selama ini terpendam. Itulah kenapa nama pendakian ini Jomblo Mendaki Rinjani.

Akhir dari sebuah perjalanan, semangat agar esok tak jomblo lagi

esok nggak jomblo lagi

esok nggak jomblo lagi via www.sociotraveler.com

Minggu pagi, 8 Mei adalah akhir dari perjalanan panjang Jomblo Mendaki Rinjani chapter 2. Etape terakhir adalah menyusuri hutan Senaru selama 4 jam dengan trek turun dan bisa dibilang paling menyenangkan. Tanpa kesulitan berarti kami berhasil menjejak gerbang pendakian Senaru jelang tengah hari. Dengan ini petualangan kami berakhir. Harapannya juga agar kejombloan kami juga segera usai.

Kita tak tahu kapan jodoh akan datang. Siapa tahu dia datang di Rinjani?

Sampai jumpa di Jomblo Mendaki Rinjani edisi terakhir Agustus nanti!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *